Lewati ke konten
Asuransi

Literasi Asuransi Turun ke 42,84 Persen di Tengah Kenaikan Inklusi 2026

Hasil SNLIK 2026 menunjukkan tingkat literasi asuransi turun menjadi 42,84 persen saat inklusi asuransi naik ke angka 29,55 persen.

Ilustrasi AI: Seseorang di meja kerja dengan buku catatan dan miniatur payung pelindung.
Ilustrasi: AI Gambar dibuat dengan AI sebagai ilustrasi, bukan foto peristiwa.

Menurut laporan Warta Ekonomi, data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatatkan tingkat literasi asuransi di Indonesia turun menjadi 42,84 persen pada 2026 dari 45,45 persen pada 2025. Pada periode yang sama, tingkat inklusi asuransi justru menunjukkan kenaikan dari 28,50 persen menjadi 29,55 persen. Perbedaan tren ini menandai tantangan bagi industri untuk memastikan bahwa penggunaan produk asuransi diiringi oleh pemahaman masyarakat terhadap manfaat proteksi keuangan.

Menyambut Hari Asuransi ke-20 yang diperingati tiap 18 Oktober, Dewan Asuransi Indonesia menunjuk Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia sebagai ketua pelaksana dengan tema Literasi Asuransi Untuk Negeri. Ketua Umum DAI Yulius Bhayangkara pada Selasa, 20 Oktober 2026, menjelaskan bahwa edukasi diarahkan agar publik memahami manfaat perlindungan, bukan sekadar mengenal produk. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan di sejumlah kota, konferensi pers, serta media cetak, daring, dan sosial. Ketua Panitia Hari Asuransi 2026 Cicilia Nina Triana menyebut rangkaian acara menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sementara Ketua Bidang Kanal Distribusi AAJI Hengky Djojosantoso menegaskan pentingnya memperluas kesadaran risiko seperti kecelakaan dan bencana alam.

Dari sisi performa, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan total aset industri asuransi tumbuh 2,56 persen secara tahunan hingga mencapai Rp1.200,55 triliun per Agustus 2026. OJK sendiri memproyeksikan pertumbuhan industri berada pada kisaran 2 persen sampai 4 persen hingga akhir tahun.

Kenapa ini penting

Untuk perusahaan asuransi, agensi, dan agen pemasar asuransi

  • Kesenjangan antara naiknya inklusi dan turunnya literasi menuntut agen pemasar memperdalam penjelasan fungsi proteksi polis, sehingga nasabah membeli perlindungan karena benar-benar paham risikonya dan bukan sekadar ikut membeli.
  • Fokus edukasi yang menyasar sektor usaha mikro, kecil, dan menengah membuka ruang bagi perusahaan dan tenaga pemasar untuk menawarkan perlindungan terhadap risiko operasional nyata seperti bencana atau kecelakaan kerja.
  • Pemanfaatan kanal daring dan media sosial oleh industri memberikan dorongan bagi agensi untuk memperkuat komunikasi digital yang informatif guna mempermudah calon nasabah memahami isi kontrak serta manfaat asuransi.
  • Literasi Asuransi
  • Inklusi Keuangan
  • Industri Asuransi
  • OJK
Solusi AtlasGo untuk asuransi

Perjalanan asuransi interaktif dengan AI

InsureView menghadirkan perjalanan asuransi yang interaktif dan penangkapan prospek berbasis AI untuk perusahaan dan agensi asuransi.

Pelajari InsureView