Tantangan Modal Minimum Asuransi Memicu Peluang Konsolidasi dan Merger Industri
Fitch Ratings mencatat mayoritas perusahaan asuransi di Indonesia belum siap memenuhi batas modal minimum 2028 sehingga memicu opsi konsolidasi.
Menurut laporan Kompas.id, Fitch Ratings memperkirakan sekitar 70 persen perusahaan asuransi di Indonesia belum siap memenuhi ketentuan modal minimum Otoritas Jasa Keuangan yang berlaku pada akhir 2028. Berdasarkan data akhir 2025, sebanyak 76 persen perusahaan yang diperingkat Fitch telah memenuhi modal tahap pertama untuk akhir 2026, tetapi hanya 6 persen dari kelompok tersebut yang telah mencapai batas tahap berikutnya. Kewajiban modal tahap pertama pada 31 Desember 2026 bernilai Rp 250 miliar, lalu meningkat menjadi Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun pada akhir 2028 berdasarkan Peraturan OJK Nomor 23 Tahun 2023.
Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia Yulius Bhayangkara menyatakan pelaku industri sedang memastikan proses pemenuhan modal berjalan baik di tengah adaptasi PSAK 117 dan perhitungan risk-based capital. Menurut Yulius, imbal hasil industri asuransi belum semenarik sektor lain sehingga penambahan modal menghadapi tantangan, dan investor asing cenderung menahan diri karena banyaknya aturan baru. Konsolidasi serta akuisisi dipersiapkan sebagai jalur alternatif, dengan penegasan bahwa "kita harus memastikan pemegang polis tidak kehilangan hak" saat penggabungan berlangsung di bawah pengawasan regulator. Data OJK per Agustus 2026 mencatat 117 dari 147 perusahaan asuransi dan reasuransi telah memenuhi batas modal akhir 2026.
Kenapa ini penting
Untuk perusahaan asuransi, agensi, dan agen pemasar asuransi
- Ketatnya batas modal minimum mendorong perusahaan asuransi berskala kecil mempercepat konsolidasi atau merger. Manajemen perusahaan asuransi dan pimpinan agensi perlu mengantisipasi perubahan kepemilikan dan struktur korporasi agar stabilitas operasional serta layanan nasabah tetap terjaga dengan baik.
- Bagi agen pemasar asuransi, kepastian pemenuhan modal dan perlindungan hak pemegang polis menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan nasabah. Agen harus mampu menjelaskan komitmen kepatuhan regulasi perusahaan kepada nasabah ketika industri berada dalam periode penggabungan usaha.
- Proses pemenuhan aturan baru seperti PSAK 117 dan perhitungan risk-based capital menuntut agensi untuk memperkuat koordinasi bisnis dengan perusahaan mitra. Penguatan koordinasi ini penting guna memitigasi risiko administrasi dan memastikan kontinuitas penutupan polis selama masa transisi permodalan.
Perjalanan asuransi interaktif dengan AI
InsureView menghadirkan perjalanan asuransi yang interaktif dan penangkapan prospek berbasis AI untuk perusahaan dan agensi asuransi.


