Lewati ke konten
Properti

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen, Pengembang Sambut Positif di Tengah Tekanan Pasar

BI menahan suku bunga acuan pada 5,75 persen, memberi kepastian bagi pelaku industri properti yang menghadapi pelemahan daya beli.

Foto dari laporan Bisnis.com
Foto: Bisnis.com

Menurut laporan Bisnis.com, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen berdasarkan Rapat Dewan Gubernur periode 22 sampai 23 September 2026. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa bank sentral juga menetapkan suku bunga deposit facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,5 persen. Kebijakan ini diambil karena sejalan dengan perkiraan inflasi tahun 2026 yang terkendali pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen, serta untuk menjaga stabilitas rupiah.

Direktur PT Ciputra Development Tbk. Harun Hajadi menilai keputusan tersebut sebagai kabar baik di tengah pasar yang penuh tantangan dan daya beli yang melemah. Perlambatan sektor ini tecermin dari kinerja perseroan pada semester I 2026, saat pendapatan CTRA tercatat Rp5,19 triliun atau turun 11,69 persen dari Rp5,88 triliun pada semester I 2025. Sejalan dengan itu, laba bersih perseroan ikut turun menjadi Rp1,10 triliun dari capaian periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,24 triliun.

Untuk menyiasati pelemahan permintaan domestik tersebut, Harun Hajadi mengungkapkan bahwa perseroan terus menghadirkan berbagai inovasi demi mendorong penjualan hingga akhir tahun. Keputusan bank sentral mempertahankan suku bunga diharapkan dapat menopang stabilitas pasar di tengah dinamika ekonomi global.

Kenapa ini penting

Untuk developer, agen, dan pemasar properti

  • Keputusan BI mempertahankan suku bunga memberikan kepastian biaya kredit bagi calon konsumen. Agen dan pemasar properti dapat memanfaatkan momen ini untuk meyakinkan pembeli bahwa suku bunga pinjaman masih berada pada tingkat yang stabil sehingga tidak perlu menunda transaksi.
  • Penurunan pendapatan dan laba pengembang besar menunjukkan tekanan riil pada daya beli masyarakat. Pengembang perlu mengevaluasi portofolio produk serta menyusun strategi harga yang lebih fleksibel agar dapat menjangkau segmen konsumen yang masih aktif bertransaksi.
  • Langkah Ciputra yang berfokus pada inovasi menegaskan pentingnya diferensiasi produk di tengah pasar yang melambat. Pelaku industri properti dituntut lebih kreatif dalam mengemas skema penjualan dan promosi guna menjaga target perolehan pendapatan hingga akhir tahun.
  • Suku Bunga Acuan
  • Bank Indonesia
  • Ciputra Development
  • Pasar Properti
Solusi AtlasGo untuk properti

Tur properti 360° yang menghasilkan prospek serius

ProperView menghadirkan tur properti 360° dan denah interaktif yang membantu developer dan agen menarik, memahami, dan mengonversi calon pembeli.

Pelajari ProperView